Life Style

Lifestyle Photographer Is Vital Role.

This Is Me

I was a photographer, the majority of my life just to take pictures! My life motto is Rising Falling Rising And Success.

Ancol Beach

Canon 1100D, Learn From Basic .

HantuLens

Photographer.

Perjalanan Karir

Please Klik this image.

Tampilkan postingan dengan label How to Photography Technick. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label How to Photography Technick. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 September 2013

Cara membuka File Raw Camera

Cara membuka File Raw Camera

Cara membuka File Raw Camera di Adobe Photoshop CS3.
Mungkin anda dan termasuk saya sempat bertanya-tanya tentang bagaimana cara membuka file Raw di Camera Digital SLR anda entah itu Camera Nikon ataupun Camera Canon langsung melalui program Adobe Photoshop. Sekarang kita ambil contoh menggunakan program Adobe Photoshop CS3.
Hal-hal yang harus kita lakukan adalah:
1. Download Plug-In yang bernama “Adobe Camera Raw Plug-In” disini menggunakan the Adobe Camera Raw 4.4.1 Plug-In yang dapat kita Download.
2. Setelah anda men-Download “Adobe Camera Raw Plug-In”, install Plug-In tersebut dengan cara:
3. -. Exit Photoshop CS3. Apabila anda sedang membuka program Adobe Photoshop CS3.
-. Buka My Computer.
-. Double-click Local Hard Disk C:\Program Files\Common Files\Adobe\Plug-Ins\CS3\File Formats
-. Pindahkan Camera Raw.8bi plug-in ke lokasi yg lain (contohnya: bikin Folder Baru pada Desktop Computer anda atau pada tempat yang lain). Pastikan anda tetap menyimpan file ini
-. Copy Camera Raw plug-inCamera Raw.8bi, dari tempat file dimana file itu di-download ke C:\Program Files\Common Files\Adobe\Plug-Ins\CS3\File Formats.
-. Buka Program Adobe Photoshop CS3.
4. Sekarang, anda dapat membuka file Raw menggunakan Program Adobe Photoshop CS3.
Enjoy…

“MATA” SEORANG FOTOGRAFER, SETAJAM APA?

Dulu saya pernah mengatakan bahwa salah dua aspek menjadi fotografer yang ahli adalah “selera” dan “standard”. Sebelum ini saya sudah membahas selera. Kini saya akan coba membahas standard (niatnya sih awalnya begini, tapi biasanya nanti makin ke belakang makin melebar ke mana-mana. Siap-siap saja :D)

Apa sih yang dimaksud “standard”? Menurut kamus saya, standard di sini maksudnya adalah “seketat apa kriteria suatu foto bisa dibilang bagus”. Dengan kata lain, se”kejam” apa kita menilai suatu foto (tentunya terutama foto kita sendiri! Namanya juga mau jadi jago, foto sendiri dong yang harus ditingkatkan kualitasnya..), seteliti apa kita melihat kelemahan suatu foto, dan seberapa “niat” kita untuk mengejar kesempurnaan dan mengurangi kelemahan-kelemahan di foto kita.
Singkatnya, aspek standard ada dua: seberapa kritis kita menilai foto, dan seberapa niat/berdedikasi kita untuk menghasilkan foto yang memenuhi standar tsb.
Niat dan dedikasi sih jelas ya, tinggal bagaimana kita termotivasi saja. Nah, sekarang coba kita bahas masalah “mata” yang digunakan untuk menilai foto.
Apakah foto ini cukup kontras bagi Anda? Apakah vignettenya cukup rapi? Apakah garis-garis di latar belakang masih miring?
Apakah foto ini cukup kontras bagi Anda? Apakah vignettenya cukup rapi? Apakah garis-garis di latar belakang masih miring?
Sejujurnya, bagi saya sangat sulit untuk menjelaskan lebih detail tentang standard ini. Kenapa? Karena standard ini bukan sesuatu yang diterapkan sendirian, namun diterapkan pada konsep-konsep fotografi (baik secara teknis ataupun seni/estetis) yang digunakan:
- Sudahkah frame lurus? (Atau lebih tepatnya: apakah kemiringannya sudah sesuai yang diinginkan?)
- Apakah background sudah diblur dengan tingkat yang pas? Apakah background tidak mengganggu? Apakah obyek cukup kontras dengan background?
- Apakah warna kulit sudah sesuai keinginan? Apakah mata obyek terlihat sehat (tidak merah, sembab, atau mata panda, misalnya), apakah gigi terlihat putih?
- Apakah ada chromatic aberration? Apakah ada barrel distortion? Apakah ada vignetting (atau lebih tepatnya: apakah tingkat vignettingnya sudah sesuai yang diinginkan)?
- Apakah obyek sudah ditempatkan pada titik yang paling seimbang (baik statis ataupun dinamis) secara komposisi? Apakah tidak ada rasa “sumpek” dalam frame? Apakah tidak ada hal yang diinginkan yang masih bisa di-crop/dibuang dari frame?
- Jika otak kiri kita (yang mengenali obyek-obyek foto secara logis) ditidurkan, dan kita melihat foto dengan otak kanan (sebagai warna, garis, pola, kontras, tone, dsb.), apakah citra yang terbentuk sudah enak dilihat? (Di foto bunga di atas, garis kotak-kotak latar belakangnya membuat foto terlalu kaku bagi saya. Jika saja masih ada ruang sisa di sekitar bunga, mungkin akan saya putar 15-20 derajat.)
Sebaliknya, jika otak kanan diacuhkan sejenak, apakah foto menyampaikan pesan yang cukup berbobot? (Foto bunga di atas, misalnya.. Saya suka dengan tonenya, tapi saya merasa foto tersebut hanya seperti “permen”: enak dinikmati, namun tidak ada esensinya.)
dsb dsb dsb..
Jika saya melihat ke belakang, banyak sekali hal-hal yang dulu tidak saya sadari. Dan melihat foto-foto yang saya ambil/edit dahulu, banyak juga hal-hal yang ingin saya edit ulang karena dengan standar yang sekarang foto tersebut terlihat jelek.
Baru beberapa hari yang lalu saya ditegur orang yang mengatakan bahwa skin tone (warna kulit) model di foto saya terlihat terlalu merah, dan giginya terlihat kurang putih. Wah, ini hal baru! Sebelumnya saya bahkan tidak terpikir untuk memastikan modelnya terlihat kinclong giginya. Skin tone pun, selama tidak kelihatan kartun atau alien, masih oke lah. Sekarang, saya lebih ketat memperhatikan dua hal tersebut. Masuk akal kan? Kita tidak bisa meningkatkan kualitas foto kita di aspek-aspek yang bahkan tidak kita sadari!
Nah, bagaimana cara menaikkan standar ini?

Kritik dari luar

Paling gampang (tapi mungkin agak nyesek) adalah dengan minta kritik dari orang lain, terutama yang punya standard lebih tinggi dari kita, paling tidak di genre/jenis fotografi tertentu. Dari masukan orang lain, mungkin Anda bisa jadi menyadari sesuatu yang tadinya tidak Anda sadari (misalnya: tingkat putihnya gigi), dan/atau meningkatkan standar sehingga jadi lebih kritis (misalnya: warna kulit harus lebih kritis lagi diperhatikan).

Mengamati proses kita pribadi menilai/menikmati foto

Saya tidak bisa menekankan seberapa pentingnya bagi fotografer untuk sering melihat-lihat foto orang lain, terutama foto yang sudah banyak diakui orang sebagai foto yang bagus (paling tidak di genre fotogafi yang kita minati). Tentu bukan hanya melihat-lihat sekilas, tapi coba pelankan proses Anda melihat-lihat foto tersebut, atau amati lebih detil reaksi Anda.
Apa yang pertama menarik perhatian Anda? Ke mana kah mata Anda pertama kali tertuju? Setelah itu ke mana? Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mata Anda “menjelajahi” foto? Apakah foto tersebut foto yang simpel dan langsung ke intinya, ataukah foto yang menyembunyikan sebuah “kejutan”? Apa yang dipikirkan oleh otak kiri Anda, dan apa yang dilihat oleh otak kanan Anda? dsb dsb dsb..
Satu hal yang mungkin perlu saya ingatkan (terutama jika foto yang Anda lihat adalah foto yang banyak diakui ahli sebagai foto bagus), adalah untuk menahan dorongan untuk “men-judge”. Seringkali, sebagai fotografer, timbul keinginan untuk menilai sang fotografer. “Oh, ininya kurang begini nih, sedangkan itunya terlalu begitu..” Jika sedang belajar, simpan dulu saja penilaian tersebut. Yang penting, amati bagaimana reaksi kita terhadap foto tersebut, dan apa saja yang kita sukai (dan tidak sukai).

Eksperimen

Terutama jika Anda menggunakan kamera digital, hampir tidak ada biaya yang dikeluarkan jika Anda memotret satu obyek lebih dari satu (atau sepuluh) kali. Coba angle baru. Coba misfokus. Coba underexpose, coba overexpose. Coba gunakan manual focus dan sengaja tetapkan fokusnya di belakang obyek. Coba di depan obyek.
Begitu pula saat post-processing/olah digital. Coba B&W. Coba sepia. Coba naikkan kontrasnya. Coba turunkan. Coba bermain dengan tools ini-itu. Coba beri pinggiran/pigura pada foto Anda, apakah berbeda rasanya? dsb dst..
Bukan berarti Anda harus selalu bereksperimen lho ya. Cape juga kalau semua hal harus dicoba ke semua foto/obyek. Yang penting jangan kungkung rasa “iseng” dalam diri Anda, jika ada rasa penasaran dan ingin mencoba hal baru, coba saja!
Meminta saran ke orang lain berarti Anda berkembang dengan mengadopsi standard orang lain (tidak ada salahnya sih). Mengamati respon terhadap foto orang lain berarti mengadopsi standard yang dipicu oleh sesuatu yang sudah dicoba orang lain. Melalui eksperimen lah Anda bisa mengadopsi standard yang belum terpikirkan/dicoba oleh orang lain :)

Pendidikan

Tentu saja, Anda bisa ikut seminar atau kursus atau baca buku.. atau baca blog (gratis :P).
Sekian dulu artikel dari saya. Bagaimana menurut Anda?

Mengetahui Tipe Lensa DSLR

Mengetahui Tipe Lensa DSLR

Teknik Fotografi - Ketika pertama kali website serta akun Twitter ini hadir buat Sobat sekalian, ada banyak sekali pertanyaan tentang “Kamera apa yang harus saya beli?” dan pertanyaan tersebut banyak sekali diajukan oleh teman-teman yang baru mulai belajar fotografi dan sedang mengumpulkan informasi peralatan yang tepat bagi mereka untuk dibeli. Seiring dengan meningkatnya kamera yang beredar di pasaran, serta kamera DSLR yang sudah dibeli entah itu karena alasan harga yang murah serta ingin meng-upgrade perangkat mereka, akhirnya muncul lagi pertanyaan tentang “Lensa apa yang tepat buat kamera DSLR Saya?”
Tipe-Lensa-DSLR
Mungkin akan terasa sulit untuk menjawab pertanyaan ini dimana saat ini setiap produsen kamera digital menawarkan berbagai macam lensa dengan kualitas serta harga yang sangat beragam. Perlu diingat juga bahwa setiap fotografer memiliki gaya foto yang berbeda, mereka memiliki karakter memotret tersendiri, dan itu bisa menjadi kerumitan tersendiri ketika menjawab pertanyaan “Lensa apa yang tepat”
Dibawah ini adalah sedikit tulisan yang mengulas macam-macam jenis lensa yang ditawarkan di pasar kamera DSLR oleh para produsen kamera. Kami tidak akan membahas sebuah lensa secara detail, tetapi akan sedikit memberikan pengantar singkat terhadap istilah serta jenis lensa yang ada di pasar DSLR yang bisa menjadi pertimbangan ketika Sobat terjun berburu lensa DSLR.
Tipe-Lensa-DSLR
Perlu diingat bahwa kebanyakan kamera DSLR yang berdar tidak semuanya kamera full-frame, sensor yang dimiliki pada umumnya berukuran lebih kecil dibandingkan kamera full-frame dan itu berarti hasil lensa tidak berdampak sama seperti pada full-frame atau pada kamera film.

TIPE LENSA DSLR:

  1. Lensa Standard - Ini adalah istilah yang perlahan-lahan sedikit menghilang dari terminologi dunia fotografi. Digunakan untuk mendeskripsikan lensa dengan range 50mm, karena lensa ini biasanya sudah terpasang pada kamera kamera film.
  2. Lensa Kit - Saat ini kebanyakan lensa sudah menjadi satu paket dengan kamera DSLR yang dijual, dan biasanya lensa ini di kenal sebagai lensa kit. Lensa ini kebanyakan adalah lensa zoom, dan secara fungsional dikenal sebagai lensa multi-purpose yang memang didesain untuk kepentingan memotret sehari-hari. Fotografer profesional kebanyakan selalu membeli body kamera dan mengupgrade lensa sesuai dengan kebutuhan mereka.
  3. Lensa Prime / Lensa Fix - Lensa Fix merupakan sebuah lensa yang hanya memiliki satu Focal-Length. Terkadang lensa ini menjadi lensa yang kurang populer dimana para fotografer merasa nyamana dengan lensa yang memiliki range Focal-Length di tangan mereka (lihat ulasan lensa zoom dibawah), tetapi bagaimanapun juga lensa fix layak unutk dipertimbangkan. Lensa zoom memang memiliki keuntukngan pada kualitas yang mereka tawarkan, tetapi lensa fix juga dikenal dengan kualitas gambar serta kecepatan. Ketika kebanyakan orang nyaman dengan lensa zoom, kebalikannya Saya lebih menikmati tantangan dalam menggunakan lensa fix, dan mereka membawa sesuatu dalam dunia fotografi saya, dan biasanya saya akan merasa sedikit malas ketika lensa zoom terpasang.
  4. Lensa Zoom / Tele - Lensa zoom merupakan lensa DSLR yang paling populer saat ini, hadir dengan konfigurasi range focal length serta tingkatan kualitas. Keuntungan yang paling terlihat dengan menggunakan lensa ini adalah, Sobat tidak perlu mendekat ke subyek untuk mendapatkan framming yang lebih ketat. Lensa ini bisa memberikan range pendek atau cukup panjang. Hal yang perlu diingat ketika membeli kamera ini adalah, semakin panjang focal-length maka akan semakin berdampak pada camera-shake. Kamera dengan focal length yang jauh seperti (300mm) telah difasilitasi dengan Image Stabilisation (IS) untuk mengurangi camera-shake.
  5. Lensa Makro - Lensa-lensa ini didesain khusus untuk memotret obyek secara close-up. banyak kamera DSLR yang dilengkapi dengan pengaturan ‘makro’, tetapi menggunakan lensa makro yang sebenarnya akan menghasilkan foto lebih hidup dan memungkinkan Sobat untuk memotret dengan ukuran yang sangat dekat pada obyek.
  6. Lensa Wide - Seperti namanya, lensa ini mememungkinkan penggunanya untuk memotret dan mendapatkan prespektif yang sangat luas. Lensa wide biasnya digunakan pada pemotretan landscape. Lensa wide hadir dengan focal length seperti lensa fix dan lensa zoom, walaupun hanya memiliki sedikit range pada focal-lengthnya. Perhatikan bahwa banyak lensa wide sedikit banyaknya terkadang memberikan efek ‘distort’ pada hasil foto, terutama pada tepian foto dengan bentuk yang sedikit melengkung. Bagi beberapa orang bisa menjadi efek yang bagus, tetapi terkadang juga berarti efek yang tidak diinginkan.
Lensa ‘Fish-Eye’ merupakan lensa ‘extreme’ dari lensa wide, dimana lensa ini didesain khusus untuk memberikan efek ‘distort’ lengkung pada hasil foto Anda, tetapi sekali lagi hal tersebut tergantung pada gaya serta style seorang fotografer.

Tips Memotret Beach-Photography

Tips Memotret Beach-Photography

Teknik Fotografi - Bergembiralah Sobat-sobat yang memiliki pantai indah di kota atau daerah kalian. Kebanyakan orang selalu menganggap pantai memiliki daya tarik tersendiri untuk melepas penat, berekreasi bersama keluarga, atau bahkan sebagai tempat jogging. Alasan utama tentu karena pemandangan alam yang memikat, warna biru yang mencerminkan kebebasan, dan cahaya yang menarik perhatian. Kami yakin, ketika mencari tempat hunting pasti tebersit di benak sobat untuk mempertimbangkan pantai sebagai tempat tujuan. Pantai selalu menawarkan peluang fotografi yang bagus, tetapi sama dengan tempat-tempat hunting lainnya, pantai juga memiliki tingkat kesulitan serta tantangan tersendiri bagi seorang fotografer. Cahaya yang kuat bisa saja merusak kamera, itu juga salah satu alasan kenapa ada filter UV bukan?
Tips Beach Photography
Salah satu pertimbangan yang cukup penting dalam memotret di area pantai tentu saja adalah cuaca. Kita hidup di daerah tropis, dimana ada Dua cuaca yang terkadang tidak menentu. Tentu Sobat tidak ingin memotret saat hujan kan? Sayang tuh kamera, kecuali jika Sobat sudah mempertimbangkan sebuah konsep serta dilengkapi dengan peralatan anti air dan anti badai. Berikut ini adalah 10 tips fotografi yang bisa kalian pertimbangkan untuk mendapatkan hasil foto yang bagus ketika memotret di pantai:
Tips Beach Photography
    1. Menentukan Focal Point - Beberapa teman fotografer pernah mengutarakan, jika mereka jarang sekali bahkan cenderung tidak pernah membawa kamera ketika mengunjungi pantai, hanya karena mereka beranggapan bahwa semua pantai itu sama, tidak ada yang bisa menarik perhatian. Maaf sebelumnya, tapi itu menurut saya terdengar sangat menyedihkan. Pantai selalu menjadi tempat yang penuh dengan peluang foto menarik bagi Saya, itu karena mata serta point-a-view yang berbeda, cobalah untuk melihat dengan point-a-view yang berbeda, fotografi bukan hanya sekedar memotret apa yang orang lihat, tetapi fotografi adalah tentang menciptakan sebuah foto. Sebuah contoh: Ketika kebanyakan orang datang kepantai dengan memandang serta memotret ke luasnya laut serta langit biru, Saya malah tertarik untuk pergi ke pinggiran pantai dan melihat apa yang ada di dalam frame foto dari sudut tertentu. Salah satu masalah pada fotografi landscape pantai adalah biasanya mereka memotret sebuah pemandangan indah tanpa adanya Point-of-Interest (PoI) dan bisa dipastikan, foto itu akan terkesan membosankan. Carilah Point-of-Interest atau Focal-Point ketika memotret, hal tersebut akan memberikan ‘pandangan’ bagi penikmat foto Kalian. Pola di atas pasir yang disebabkan oleh ombak, jejak kaki, ombak yang menerpa batu karang, menara suar bisa menjadi pilihan yang bisa digunakan sebagai Focal Point. Alangkah baiknya lagi jika Sobat bisa memasukkan unsur cerita di dalam frame, seperti sepatu yang terdampar di tepian pantai, istana pasir, terkadang foto-foto seperti itu bisa membawa cerita tersendiri bagi liburan pantai kalian Sob.
    2. Pentingnya Timing - Pagi dan senja hari bisa memberikan peluang terbaik untuk memotret di daerah pantai. Pantai masih sepi pengunjung pada saat pagi hari dan bagusnya lagi, Sobat akan mendapatkan sudut matahari dengan sinar yang bisa menghasilkan efek bayangan serta warna yang menarik, terutama pada saat sore hari atau senja, dimana langit bisa menampakkan sesuatu yang terkesan hangat dan bewarna keemasan.
    3. Perhatikan Horizon - Horizon yang miring merupakan masalah yang sering ditemui ketika memotret di daerah pantai, seperti yang kita ketahui pantai memiliki ruang terbuka luas serta horizon yang tidak terputus. Berilah perhatian lebih terhadap horizon agar tetap lurus pada frame foto, selain itu pertimbangkan juga menempatkan horizon tidak bertempat di tengah-tengah framer, itu akan memberikan kesan foto yang terbagi dua bagian. Lebih jelasya di lain kesempatan Kita akan membahas tentang komposisi dan Rule-of-Third.
    4. Datang ke Pantai Ketika Orang Menghindarinya - Timing lain dimana pantai akan terasa lebih indah adalah hari-hari tertentu dimana orang-orang sedang menghindari pantai ketika ada isu tentang cuaca buruk. Badai lautan, awan yang gelap serta mengkhawatirkan dan dramatis serta angin yang menerpa pepohonan dan daun beterbangan akan lebih membuat atmosfer serta suasana lebih menarik untuk dipotret. Tetapi perlu diingat, keselamatan Sobat diatas segalanya, tetap waspada dan berhati-hati.
    5. Exposure Bracketing - Salah satu tantangan ketika memotret ketika musim kemarau di area pantai adalah cahaya yang terlampau terang dan  kamera tidak mau untuk under-expose ketika memotret dengan mode Auto. Mode Manual bisa Sobat gunakan jika kamera digital mendukung fitur ini. Mode manual layak untuk dicoba ketika memotret di pantai dengan cahaya yang terlampau terang. Bereksperimen-lah dengan menggunakan level exposure yang berbeda. Sobat akan mendapatkan hasil terbaik ketika kamera mengekspose foto dan kemudian melakukan over expose sebanyak Satu atau Dua stop, tetapi tentu saja ini sangat tergantung situasi yang ada. Landscape dengan cahaya terlampau terang terkadang cukup rumit, terutama jika Sobat mendapati tempat dengan intensitas cahaya yang jauh berbeda, ada teduh karena bayangan, serta yang cerah.
    6. Spot Metering - Sobat bisa mengatasi masalah yang terjadi diatas dengan menggunakan Spot Metering, tentu saja jika kamera digital mendukung fitur metering ini. Spot Metering merupakan sebuah fitur yang dimiliki kamera dimana Kita bisa menginstruksikan area foto mana yang bisa terekspose dengan baik. Hal ini akan sangat berguna ketika memotret pada cahaya yang terang dan Sobat juga ingin mendapatkan ekspose di area yang teduh (Area yang lain akan over eksposure) tetapi paling tidak subyek utama akan terekspose dengan baik. Hal ini juga bisa efektif terutama ketika memotret orang, dimana Anda harus menjauhkan wajah dari cahaya matahari langsung, mempertimbangkan bayangan wajah, serta mata silau terkena matahari.
    7. Fill Flash - Bayangan pada wajah (sering kali terbentuk karena topi, kacamata, hidung) selalu terjadi ketika memotret orang dalam bentuk portrait di area pantai yang terang. Nyalakan flash dan gunakan ketika memotret pada kondisi ini, dan Sobat akan mendapatkan bayangan menghilang serta subyek sebenarnya terekspose dengan baik. Teknik fotografi ini dirasa penting ketika mengambil gambar di area terang, Sobat akan mendapati sejenis foto silhoute jika tidak memotret tanpa menggunakan flash. Lakukan eksperimen jika kamera didukung dengan pengaturan level atau kekuatan cahaya flash, perlu diingat bahwa power berlebih pada flash akan mengakibatkan subyek terlihat washed-out. Mundurlah beberapa langkah, jika Subyek tampak terlalu terang (over-exposed) dan Sobat tidak bisa menurunkan kekuatan flash, dan gunakan zoom untuk mendapatkan framing yang lebih ketat, teknik ini bisa menurunkan dampak flash bagi foto.
    8. Filter UV - Filter ini berguna bagi pemilik kamera DSLR ketika memotret di area pantai. Pertama adalah sebagai pelindung lensa, tetapi mereka juga bisa memfilter atau menyaring cahaya sinar ultraviolet. Filter bisa mengurangi efek atmosfir seperti kabut kebiruan, memang dampak visual tidak terlalu terasa tetapi toh filter ini biasanya merupakan bonus ketika kita membeli kamera DSLR baru.
    9. Filter Polarizer - Salah satu aksesoris lensa DSLR yang paling berguna adalah dengan menambahkan filter polarizer ke kamera digital. Filter ini menyaring cahaya yang terpolarisasi, ini berarti meningkatkan kontras dan mengurangi reflekis yang dihasilkan subyek foto. Subyek yang paling jelas terlihat dampaknya adalah pada langit biru, dimana warna langit akan lebih biru ke hampir gelap. Dampak yang lain adalah pada air laut, dampaknya akan sedikit bervariasi. Untuk lebih jelasnya cobalah untuk bereksperimen menggunakan filter ini, dan kalian pasti akan terkagum-kagum dengan hasil foto tersebut.
Beach Photography Tips
  1. Black and White - Satu teknik fotografi yang sering kita lihat dalam foto pantai akhir-akhir ini (dan juga yang lain) adalah dengan melakukan sedikit sentuhan post produksi dengan mengkonversi foto ke dalam hitam putih. Ada sesuatu tetang foto hitam putih, yang pastinya bisa merubah “mood” dan perasaan ketika memandang foto tersebut. Hal ini bisa menjadi cara yang cukup bagus ketika mengangkat suasana foto pantai yang tumpul atau overcast dengan menanggalkan warna menjadi hitam putih.

Bagaimana Menciptakan Foto Siluet

Bagaimana Menciptakan Foto Siluet

Teknik Fotografi - Pada artikel-artikel terdahulu, biasanya Kami selalu menganjurkan penggunaan flash pada saat memotret berlawanan dengan cahaya matahari guna memberikan cahaya yang cukup serta mengangkat struktur obyek foto, tetapi ada saat dimana membuat obyek foto tanpa detail sama sekali dan terlihat seperti hanya garis dengan latar belakang terang, dengan kata lain memotret siluet. Siluet merupakan suatu cara terbaik dalam menghasilkan foto yang mengandung drama, misteri, emosi, dan suasana pada penikmat foto Anda, dan seringkali menjadi foto yang paling menonjol dalam album foto karena kombinasi kesederhanaan, dan cerita yang disampaikan. Banyak fotografer yang menyukai foto siluet, karena foto itu tidak menggambarkan foto yang jelas tetapi hanya menggambarkan semacam imajinasi.
Foto Siluet
Tips atau strategi dasar untuk mendapatkan foto siluet adalah dengan menempatkan subyek atau bentuk yang ingin di “black-out” di depan sebuah sumber cahaya dan kemudian paksa kamera mengatur eksposure berdasarkan pada bagian terang / background bukan pada subyek utama foto. Dengan melakuan teknik fotografi diatas, akan menyebabkan subyek under-exposed (sangat gelap dan hitam).
 Ada banyak sekali deskripsi teknik yang ada tentang bagaimana membuat foto siluet yang benar, tetapi cobalah baca ulasan dibawah ini tentang beberapa langkah awal untuk mendapatkan foto siluet. Pada dasarnya apa yang coba di ulas adalah bagaimana membuat kamera berpikir bahwa bagian yang paling terang adalah Point-of-Interest yang Anda inginkan.

Foto Siluet
  1. Pilihlah obyek yang kuat- Hampir semua obyek bisa dipergunakan sebagai foto siluet, tetapi beberapa lebih baik dari lainnya. Pilihlah obyek yang berkarakter kuat serta bentuknya mudah dikenali, itu akan membuat lebih menarik dalam bentuk dua dimensi dan membuat orang yang melihat foto lebih lama mendalami foto siluet Anda. Foto siluet tidak bisa menggambarkan warna, tekstur, dan tone subyek foto Anda, jadi bentuk memang harus menjadi ciri khas obyek.
  2. Matikan Flash - Mode pengaturan kamera otomatis pasti akan mengacaukan foto siluet yang akan Anda buat. Kamera dengan otomatis akan menambahkan flash pada obyek yang gelap dan tidak terkena cahaya. Rubah setting kamera ke manual, atau matikan flash Anda untuk mendapatkan foto siluet yang bagus (tetapi ada juga beberapa foto siluet yang menggunakan flash).
  3. Pastikan cahaya dengan benar - Pada saat mengatur cahaya bagi subyek, Anda harus melupakan banyak sekali ilmu yang telah dipelajari di dunia fotografi umumnya, dan berpikirlah sedikit kebelakang. Dalam foto siluet Anda harus memastikan ada cukup cahaya bersinar di belakang obyek foto, dan bukan di depannya, dengan kata lain cahaya tersebut digunakan untuk menerangi bagian belakang obyek, dan bukan dari depan. Sebagai contoh foto siluet adalah menempatkan subyek foto di depan matahari terbit atau tenggelam, tetapi bisa juga Anda menggunakan sumber cahaya lain yang terang untuk mendapatkan foto siluet.
  4. Framing - Lakukan framing pada jepretan Anda dengan menempatkannya di depan view yang menarik, tetapi dengan background yang terang. Background yang menarik bisa berupa langit tanpa awan yang cerah dengan pengaturan matahari. Posisikan cahaya paling terang di belakang subyek sehingga terkesan Anda sedang menyembunyikan sumber cahaya tersebut.
  5. Buatlah bentuk siluet terpisah dan rapi - Jika terdapat lebih dari satu bentuk atau obyek di dalam gambar siluet yang ingin Anda tangkap, cobalah untuk memisahkan mereka, sebagai contoh: jika Anda ingin menangkap siluet sebuah pohon dan seorang anak kecil, maka jangan menempatkan anak kecil tersebut di depan pohon atau bahkan bersandar di bahwa pohon, hal ini akan menyatukan bayangan serta bentuk mereka dan berdampak penikmat foto akan sedikit kebingungan tentang bentuk apa itu sebenarnya. Ketika melakukan framing, mungkin Anda ingin memotret bentuk serta profil seseorang, untuk melakukan hal itu Anda harus lebih menonjolkan bentuk wajah mereka dari samping (hidung, mulut, mata) uraikan garis wajah mereka sehingga penikmat akan bisa mengenali wajah siapa yang Anda potret.
  6. Mode Otomatis - Kamera kebanyakan sekarang ini memilki metering otomatis dimana mereka memiliki “sense” yang bagus untuk meng-ekspose sebuah foto sehingga semua elemen bisa terkena cahaya cukup. Permasalahannya adalah ketika kamera cukup pintar untuk melakukannya, maka pasti akan lebih memilih memberikan cahaya daripada membiarkan elemen tersebut “under-expose”, dan Anda tidak akan mendapatkan foto siluet yang diinginkan, jadi Anda harus sedikit melakukan trik. Kamera kebanyakan bekerja dan mengukur tingkat eksposure secara otomatis pada saat tombol shutter ditekan setengah, dan itu berarti pada saat mencari auto fokus. Arahkan kamera pada titik paling terang pada gambar Anda dan kemudian tekan tomboh shutter separuh dan jangan lepaskan, kemudian rubah arah kamera kembali ke frame pada subyek foto Anda dan tekan tombol shutter sepenuhnya. Teknik foto siluet ini bisa bekerja pada kamera kebanyakan DSLR. Teknik ini bisa berarti menipu kamera Anda dengan pemikiran bahwa bagian paling terang pada gambar merupakan mid-tone jadi semua yang lebih gelap darinya akan dianggap sebagai bayangan gelap. Beberapa digital kamera juga memiliki pengaturan metering spot dan centered, gunakan pengaturan metering tersebut, dan itu akan membantu Anda dalam mengaplikasikan teknik diatas.
  7. Mode Manual - Jika teknik dengan menggunakan mode otomatis tidak berhasil, dan kamera digital Anda mendukung fitur pengaturan eksposure secara manualatau exposure compensation, maka cobalah bereksperimen dengan fitur tersebut. Keindahan fotografi digital adalah Anda bisa melakukan eksperimen serta ujicoba pada sebuah bidang fotografi sampai mendapatkan hasil yang sempurna. Sebuah cara yang paling sederhana dengan menggunakan mode manual adalah memulai dengan melihat shutter-speed serta aperture yang disarankan oleh mode otomatis kamera. Jika pada auto mode subyek didapati terlalu terang dan Anda ingin lebih gelap, turunkan shutter speed sebanyak satu atau dua stop dan lihat bagaimana dampaknya. Anda juga bisa menggunakan teknik ‘bracketing’ untuk mendapatkan beberapa foto dengan tingkat exposure yang berbeda.
  8. Focus - Pada kebanyakan kasus, Anda tentu ingin subyek yang disiluetkan adalah fokus dari keseluruhan foto, jika demikian maka teknik atau proses yang diuraikan pada nomor 4 akan menjadi sedikit kompleks dimana Anda mendapatkan siluet dengan mengarahkan kamera ke titik paling terang, dan kemudian mengarahkan ke subyek. fokus akan berada pada titik paling terang pertama kali kamera diarahkan. Untuk menyiasati hal ini Anda bisa menggunakan Dua strategi, pertama jika kamera Anda memiliki fokus manual cobalah menggunakan prefokus sebelum melakukan metering. Cara yang kedua adalah menggunakan aperture untuk memaksimalkan depth-of-field (semua elemen foto akan lebih terfokus). Aturlah pada aperture terkecil (bilangan besar) untuk meningkatkan depth-of-field, hal ini berarti Anda akan mendapatkan foreground dan background yang detil.
Foto Siluet
Tips foto siluet: Selain model foto siluet yang memiliki karakter subyek tajam serta bewarna hitam solid, pertimbangkan juga jenis siluet parsial, dimana detail subyek foto sedikit diangkat. Terkadang sedikit sentuhan cahaya pada subyek akan membuat hasil siluet sedikit memilik dimensi dan terasa nyata. Pergunakan teknik bracketing untuk mendapatkan siluet parsial ini.

Bercerita Lewat Fotografi….

Bercerita Lewat Fotografi….

Teknik Fotografi - Pastinya ada banyak sekali alasan kenapa Kita mencintai fotografi, dan alasan yang paling sederhana adalah karena sebuah foto atau foto berseri yang memiliki cerita pada saat kita melihatnya. Selama berabad-abad orang-orang berkumpul di sekitar api unggun, alun-alun tengah kota, makan bersama dan menceritakan kisah mereka masing-masing, dan ini sudah menjadi sebuah kebiasaan bahkan kebudayaan yang sering dilakukan. Sekarang sedikit banyaknya hal tersebut mulai bergeser, banyak orang-orang tua yang mengeluh bahwa seni bercerita telah hilang seiring dengan berkembangnya teknologi.
Ilustrasi diatas memang ada benarnya, tetapi kemungkinan juga hanya cara kita bercerita telah berubah. Salah satu media untuk bercerita pada era sekarang adalah lewat fotografi digital. Sebuah foto memiliki kemampuan untuk menunjukkan emosi, gairah, narasi, gagasan serta pesan, dan semua itu adalah elemen-elemen penting dari aktifitas “bercerita”. Tentu saja menceritakan sebuah kisah bukanlah suatu hal yang terjadi begitu saja. Seorang pencerita atau pendongeng yang baik pasti telah belajar bagaimana bercerita dan mengaplikasikan keahlian mereka. Berikut ini adalah beberapa tips bercerita lewat fotografi.
CERITA PENDEK
Cerita datang di semua bentuk serta ukuran. Beberapa adalah cerita panjang (novel sampai trilogi) tetapi lainnya bisa merupakan cerita pendek, jika kita melihat dari sudut pandang fotografi bisa jadi itu merupakan satu atau dua foto yang bisa bercerita. Kebanyakan fotografi surat kabar cocok dalam kategori foto cerita, dimana satu foto menggambarkan esensi dari sebuah cerita yang disertakan dalam surat kabar tersebut. Dalam surat kabar tidak memiliki beberapa frame eksklusif yang berisi perkenalan, ulasan, serta kesimpulan, jadi surat kabar hampir selalu berusaha menceritakan kisah tentang satu aktifitas daripada cerita atau event yang panjang.
Foto yang bisa bercerita memerlukan sesuatu yang unik untuk menarik perhatian orang. Mereka biasanya memiliki focal point yang secara narasi atau visual mengarahkan orang ke dalam foto tersebut. Foto yang berisi cerita pendek kebanyakan membawa penikmat foto agar bertanya-tanya dan berpikir tentang apa yang mereka lihat, bukan karena mereka tidak mengerti, melainkan karena timbul sebuah intrik dan membayangkan apa yang terjadi di balik foto tersebut, dan menerka-nerka adegan-adegan berikutnya setelah gambar tersebut diambil. 

Ciptakan Hubungan

Ketika bercerita melalui satu gambar atau foto pertimbangkan untuk memasukkan lebih dari satu orang ke dalam frame, melakukan ini berarti Anda memasukkan unsur “relasi” ke dalam foto, dimana akan menumbuhkan pengalaman visual orang yang melihat foto. Perlu diingat, berhati-hatilah melakukan framing terhadap orang kedua dari foto Anda bisa menambah cerita yang Anda coba ceritakan. Meninggalkan bukti orang kedua yang tak terlihat dalam foto bisa menimbulkan pertanyaan  pada benak orang yang melihat foto Anda (Contoh: sebuah foto seseorang yang sendirian di meja dengan Dua gelas kopi di depannya, atau foto seseorang yang seolah-olah berbicara pada orang yang tak terlihat). Elemen yang tidak terlihat bisa merubah cerita cukup signifikan.

Berpikirlah Tentang Konteks

Apa yang terjadi di sekitar subyek? Apa yang ada pada background? Apa yang diceritakan elemen lain dalam foto tentang subyek utama dan apa yang terjadi dalam hidup mereka? Tentu Anda tidak ingin terlalu melakukan skenario pada background Anda, melakukannya akan mengakibatkan foto Anda menjadi klise.

CERITA DENGAN FOTO BERSERI

Salah satu kesalahan yang biasa ditemukan pada seorang fotografer pemula, adalah mereka cenderung berusaha menempatkan setiap elemen cerita ke dalam setiap foto yang diambil. Hal ini akan menghasilkan foto bisa dikatakan ‘sedikit kacau’ dimana di dalam foto tersebut ada banyak focal point dan itu akan membingungkan orang yang melihatnya. Salah satu cara yang bisa menghindari hal ini dan tetap bertujuan menyampaikan sebuah cerita adalah dengan mengambil foto berseri, dengan artian apa yang Anda lakukan adalah membuat semacam film dengan menggunakan foto Anda. Seperti yang kita ketahui sebuah film adalah ribuan foto yang berurutan dan berjalan bersamaan untuk menyampaikan sebuah cerita.
Foto berseri yang digunakan untuk menyampaikan cerita bisa dalam berbagai bentuk, termasuk dua atau tiga foto yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah frame atau kolase berisi ratusan foto yang diatur dalam sebuah album. Foto berseri yang bisa mudah ditemukan dan sangat familiar adalah aktifitas fotografi yang Kita lakukan pada saat liburan. Sadar atau tidak, foto berseri tersebut merupakan dokumentasi dari pengalaman kita berlibur selama beberapa hari atau minggu, bahkan bulan. foto berseri yang lain adalah foto pernikahan, pesta, konferens, dan lain-lain.

Struktur

Saya tidak mempelajari secara khusus tentang apa itu seni bercerita, tetapi bukankah sejak duduk di bangku sekolah Kita mempelajari bagaimana berkreasi dengan tulisan? dan sebuah cerita yang bagus tidak muncul begitu saja, mereka butuh perencanaan dan terstruktur. Sebelum mememulai dunia fotografi, cerita Anda tergantung dari tipe foto yang ingin diceritakan. Cerita-cerita dasar biasanya akan terdapat elemen-elemen seperti perkenalan, plot/body dan kesimpulan
1. Perkenalan/Introduksi - Foto yang menempatkan gambar ke dalam konteks. Foto ini memperkenalkan carakter penting yang ada di dalamnya, berikan informasi tentang dimana tempat kejadian terjadi, berikan tone agar foto bisa bercerita dan menginformasikan tema cerita yang berliku. Sesi perkenalan dibutuhkan untuk menuntun penikmat foto ke dalam badan cerita, jika Anda pernah membaca sebuah novel, seringkali beberapa paragraf pertama sangat menentukan apakah orang akan membeli serta membaca sampai habis novel itu atau tidak. Hal yang sama juga berlaku  pada cerita berbentuk visual. Foto perkenalan/introduksi akan memberikan suatu alasan pada orang untuk melihat lebih dalam lagi. Seperti pada album foto travelling, foto-foto awalnya akan memperlihatkan seseorang yang lagi berkemas, sertakan foto close up peta tujuan atau tiket untuk memperkuat cerita yang ingin disampaikan.
2. Plot - Cerita yang baik adalah lebih dari kata-kata kosong. Mereka seharusnya berisi gagasan, perasaan, pengalaman dan lain-lain pada tingkat yang lebih dalam. Foto yang berisi plot cerita mungkin akan berisi cerita yang lebih dominan, mereka menunjukkan apa yang sedang terjadi tetapi tetap berisi tema dan gagasan. berikut ini merupakan beberapa contoh tema foto cerita:
  • Tema visual: Warna serta bentuk yang sering muncul, sebagai contoh album yang berisi foto-foto bangunan dengan bentuk hampir sama serta laut yang biru. Foto-foto seperti itu akan memunculkan karakter yang sangat kuat.
  • Tema style: gaya serta teknik fotografi yang berulang, contohnya ketika Anda berlibur di suatu tempat wisata, cobalah untuk memotret foto makro bunga-bunga secara berseri, dan ketika teman Anda melihat koleksi foto tersebut, dia akan menemukan koleksi foto bunga-bunga dari tempat yang berbeda.
  • Tema lokasi: Memotret jenis tempat yang mirip atau sama, contoh: memotret tempat dengan background dan aktifitas yang sama, seperti pasar tradisional di berbagai daerah. Anda akan menemukan keunikan dari kemiripan serta perbedaan diantara pasar-pasar tradisional tersebut.
  • Tema Relasi/Hubungan : Memotret dengan fokus ke seseorang. Mencoba menangkap cerita suasana hati dari seseorang yang dekat dengan kita atau bisa juga dokumentasi hubungan personal teman-teman kita, saudara, pasangan, dan lain-lain.
Sebuah foto seri yang bercerita bisa terbentuk dari satu atau lebih tema. Tidak semua foto travelling akan muat dengan hanya satu tema, tetapi ketika Anda berusaha mewujudkannya dan berhasil, semua pasti akan terbayar lunas. Terkadang tema foto akan muncul ketika Anda sedang berada di dalam aktifitas fotografi itu, seperti ketika muncul ide baru ketika berada dalam perjalanan travelling. Tetapi banyak juga yang memang harus dipertimbangkan serta dipersiapkan. Seperti contoh diatas, dimana tema ‘pasar’ serta ‘bunga’ merupakan sebuah tema yang harus di pertimbangkan sebelum melakukan perjalanan. Rencanakan sebuah tema dan carilah tempat untuk mewujudkan foto-foto Anda.
Beberapa fotografer bahkan menuliskan sendiri daftar foto yang harus mereka ambil (foto pernikahan), dan yang lain hanya sekedar mengingat-ingat daftar itu di pikiran mereka. Kebanyakan fotografer yang baik adalah mereka yang memiliki kemampuan tidak hanya memotret secara spontan, tetapi juga merencanakan serta mewujudkan foto-foto dalam sebuah tema fotografi.
3. Kesimpulan - Pencerita yang baik selalu memperhatikan bagaimana cerita tersebut berakhir. Kesan akhir sangat diperhitungkan dan pastinya mempertimbangkan foto akhir/penutup akan sangat menentukan kesan dari penikmat foto Anda. Anda hendaknya membuat cerita tersebut singkat dan rapi, dan cerita yang bagus terkadang membuat orang penasaran, tetapi pertimbangkan juga bagaimana jalannya akhir cerita. Sebagai contoh pada album foto travelling, sertakan foto atau gambar matahari tenggelam di waktu senja, atau foto air port, pesawat terbang, makan malam terakhir liburan, dan lain-lain

Editing

Seperti pada novel, sebelum terbit mereka selalu melewati tahap yang dinamakan editing. Novel tersebut dikaji ulang dan di edit sampai ke dalam bentuk yang siap jual. Hal ini berlaku juga pada fotografi yang bercerita, editing dilakukan dari satu foto seperti cropping, sharpening, color enhancement, dan lain-lain sampek ke presentasi foto secara berseri. Ketika menyusun dan mepresentasikan foto berseri, pemilihan foto merupakan pertimbangan yang sangat penting. Pisahkan foto yang bercerita dan foto orang terdekat dalam album yang terpisah.

Tips Photography Traveling

Teknik Fotografi - Anda mungkin menyadari bahwa seringkali foto-foto liburan dari kerabat atau rekan Anda tampak hampir sama dengan kartu pos yang dengan mudah-nya dibeli di bandara ketika mereka dalam perjalanan pulang. Hal ini merupakan suatu hal yang umum, dimana ketika berlibur mereka selalu berusaha mendapatkan gambar atau foto dari tempat-tempat yang sudah menjadi ikon di mana mereka berlibur.
Fotografi Travelling
Ingat kembali liburan terakhir, Apa yang paling Anda ingat? Sebuah pemandangan yang banyak diketahui orang lain? Atau warna-warni pasar tradisional, roti – roti segar di jendela toko, orang-orang yang lagi duduk bersantai di teras kafe, para pedagang kaki lima serta pengamen jalanan serta bau jalanan basah terguyur air hujan?
Anda harus berpikir “diluar kartu pos” ketika menikmati liburan atau perjalanan berikutnya dan ciptakan foto-foto ikon, cerita, serta kenangan Anda sendiri. Berikut ini adalah beberapa tips fotografi yang bisa membantu Anda untuk melakukannya.
Fotografi Travelling
  1. Sertakan rambu petunjuk atau tanda di dalam foto Anda. Nama dan harga buah-buahan serta sayuran di pasar tradisional yang tertulis dalam bahasa lokal, tanda – tanda toko yang terpajang dengan kreatif, kotak koran lokal, atau bisa juga penunjuk arah yang ada di jalanan akan benar-benar memberikan kesan foto Anda lebih hidup.
  2. Sertakan penduduk lokal di dalam frame Anda. Cobalah untuk mengambil foto yang menyertakan penduduk lokal dibandingkan turis yang sedang menikmati liburan seperti Anda. Orang yang sedang membeli harian pagi, memilih bunga di pasar tradisional, orang yang sedang menikmati kopi di teras atau aktivitas jalan – jalan sore ditemani dengan peliharaan mereka. Pilihlah tempat dan sabarlah menunggu jika Anda sempat untuk melakukan street-photography. Beberapa hal menarik akan terjadi dan pastinya sebuah cerita akan hadir di dalam frame Anda, dan yang harus diingat adalah bahwa elemen manusia selalu bisa menambah daya tarik dalam foto-foto Anda
  3. Buatlah foto cerita berseri dengan menggunakan beberapa frame. Mulailah melakukan set panggung dengan mengambil foto pasar atau toko barang antik dalam wide-angle, lalu kemudian ambil foto beberapa barang-barang yang dijual secara close-up, orang-orang yang sedang bertransaksi, anak-anak yang tertawa, orang tua yang sedang merokok. Pemandangan tersebut akan menjadikan foto-foto traveling Anda akan lebih unik dan memiliki kenangan. Foto-foto tersebut juga akan menarik ketika dipajang di tembok-tembok rumah Anda.
  4. Hindari foto-foto keluarga di depan sebuah pemandangan yang terkesan membosankan. Ambillah foto anggota keluarga Anda yang sedang makan di ujung jalan atau istri Anda yang sedang bermain bola dengan anak-anak penduduk lokal. Foto-foto tersebut akan memberikan passion dan nuansa tersendiri dalam jangka waktu yang lama. Cerita perjalanan Anda akan terekam dalam sebuah kenangan yang terasa begitu menyenangkan, dan menciptakan senyuman setiap kali Anda membuka album photo tersebut.
  5. Menolak untuk mengambil gambar yang sama seperti pada kebanyakan kartu pos. Ketika Anda mengunjungi tempat wisata yang sudah terkenal seperti menara Eifel, cobalah untuk memotret dengen prespektif yang berbeda. Ambil gambar struktur menara secara close-up. Rekam gambar pola-pola dari menara secara berulang. Cobalah lebih kreatif dan berceritalah! Mengambil banyak gambar arsitektur akan memberikan warna tersendiri dari tempat-tempat wisata tersebut.
  6. Latihlah kemampuan food-photography Anda di restoran lokal. Pesanlah sebuah meja yang berada dekat dengan jendela di restoran itu, matikan flash, dan kemudian ambil gambar-gambar makanan lokal, dan pastinya selamat menikmati makanan tersebut sedudahnya.
  7. Pilihlah satu atau dua tema setiap harinya. Hal ini akan membantu Anda agar lebih fokus, dan Anda tidak akan merasa kerepotan dengan mencoba selalu mengambil gambar sepanjang hari. Bebaskan diri Anda dalam memilih tema foto setiap harinya, tergantung apa yang menarik menurut Anda. Ini adalah aktifitas travelling Anda, jika Anda memotret detail arsitektural di Roma dan suasana jalanan di sana telah manarik perhatian Anda, maka jangan ragu untuk beralih tema dan turun ke jalan dengan lensa Anda. Poinnya Adalah ketika Anda mengeksplorasi sebuah tempat yang baru, tidak mungkin menyerap semua informasi hanya dalam satu hari, lagipula jika Anda terlalu memaksakan maka Anda akan berakhir dengan foto-foto yang membosankan.
  8. Berusaha semaksimal mungkin meminimalkan penggunaan gear kamera. Anda cukup membawa satu kamera dan satu lensa karena gambar yang sempurna kadang akan terjadi ketika Anda sedang mengganti lensa, dan bisa dipastikan Anda akan menyesal telah melewatkannya. Setiap kali anda mengganti lensa di luar ruangan, resiko debu untuk masuk kedalam sensor Anda akan semakin besar, dan jika Anda mengikuti saran kami, Anda tidak akan membawa pembersih sensor yang memilki sifat mudah terbakar. Selalu ingat akan kekuatan batas. Anda ingin pergi travelling dengan beban yang ringan, dan gunakan hanya lensa 50mm sepanjang hari? Anda memiliki Dua kaki yang bisa menggantikan fasilitas zoom yang ada di kamera.